20
Agu
09

Cermin Diri Di Bulan Suci

CAHAYA BULAN SUCIBULAN Ramadhan, bulan sebaik-baik bulan telah tiba. Setiap muslim berkesempatan untuk melipatgandakan pahala di bulan ini. Ramadhan dijelaskan oleh Rasulullah saw sebagai syahrul Razhim mubarok, yakni : bulan yang sangat agung dan berlimpah keberkahan serta kebaikan. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam yang paling utama. Setiap detiknya berharga, mengingat keutamaannya. Inilah bulan ketika kita diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan-Nya. Di bulan itu nafas menjadi tasbih, amal-amal diterima, do’a-do’a diijabahi dan dosa-dosa terampuni.

Namun, ada beberapa orang yang menganggap Ramadhan seperti bulan biasa, hanya sebatas lapar di siang hari, dan kenyang di malam hari. Mereka juga telah menganggap Ramadhan hanya musim kurma, begadang semalaman dan semarak siaran televisi. Mereka telah menyia-nyiakan Ramadhan dan merusak kenikmatan di dalamnya. Sungguh sangat merugi……

Inilah sikap kebanyakan manusia. Mudah lupa dan tidak peduli dengan masa depannya, karena terjebak hal-hal yang melenakan. Ramadhan datang setiap tahun, namun tidak membawa perubahan sikap yang berarti.

Tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui kenikmatan berpuasa kecuali di hati mereka telah bercampur dengan iman. Nilai spiritual yang tinggi ini akan mendampingi kita pada bulan Ramadhan. Benih spiritual ini adalah dengan lapar, sedangkan pengairannya adalah dengan tetesan air mata, kekuatannya adalah dengan ruku’, dan kebaikannya adalah dengan kekhusukan dan kerendahan diri kita kepada Allah Azza wa Jalla. Semua ini diraih ketika jiwa dapat menang dan bebas dari belenggu syahwat.

Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah berkata, “Ruh atau jiwa akan keluar dari belenggu nafsu, dari belenggu tubuh yang selalu bergantung dan merintangi tingkah laku, kekuatan, ambisi, semangat menuju kepada Allah, dan dengan bergantung kepada Allah. Semua itu tidak akan dapat dirasakan oleh jiwa yang hina, yang terbelenggu oleh tubuh dan rintangan-rintangan.”
Ramadhan mestinya dapat mengubah perilaku pribadi atau beberapa kelompok masyarakat yang selama ini cenderung acuh dalam pengendalian syahwat, bahkan diantaranya entah sadar atau tidak justru menjadi sponsor para pengumbar syahwat. Banyak hal tidak penting yang lebih menyita perhatian daripada upaya perbaikannya terhadap fenomena kebobrokan di masyarakat itu sendiri. Seolah belum cukup peringatan Allah datang kepadanya, beberapa orang dengan percaya diri menyuguhkan adegan-adegan yang mengundang bencana.

Lihatlah di berbagai stasiun TV saat ini, betapa banyak perilaku-perilaku yang mempermainkan batas-batas larangan Allah. Di bulan Romadhon ini tidak berkurang tayangan TV yang menyuguhkan tontonan wanita-wanita yang berlagak seperti laki-laki, sedangkan laki-laki juga bergaya dan berpakaian seperti wanita. Padahal perilaku seperti itu jelas-jelas dilarang Rasulullah saw. Allah melarang manusia mendekati zina, tetapi promosi pergaulan bebas dan pengumbaran aurat wanita menjadi semakin liar.

Dulu, masih banyak yang protes terhadap pengiriman wakil Indonesia ke Kontes Miss Universe. Saat ini, pengiriman putri Indonesia ke berbagai ajang ratu sejagad semisal itu seperti sudah dianggap hal biasa. Yang protes terhadap masalah itu akan dipojokkan habis-habisan oleh banyak media massa di sini.

Rasulullah SAW bersabda : “Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri”. (HR Thabrani dan Al Hakim).

Dalam soal homoseksual, Allah sudah memperingatkan :

“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya : “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu”. (al-Ankabut : 28).

Rasulullah saw juga memperingatkan :

“Barangsiapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.” (HR Ahmad).

Di zaman seperti ini, para ulama yang masih berpegang teguh kepada ajaran-ajaran Islam, akan menghadapi tugas yang makin berat. Ucapan mereka tidak didengar. Fatwa mereka dikecam, dicap sebagai fatwa kuno, ketinggalan zaman, dan sebagainya. Yang lebih berat, diantara yang mengecam para ulama itu juga dari kalangan ulama jahat (ulama su’), yang sudah memperjualbelikan agama dengan harta benda dunia. Atau ulama-ulama yang keliru ilmunya, tetapi sudah terlanjur diberi gelar ulama atau cendekiawan, dan tak jarang juga berposisi sebagai pemimpin atau tokoh satu organisasi atau lembaga pendidikan tinggi, sehingga mereka bukannya mengajarkan ilmu yang benar, tetapi justru menyebarkan ilmu-ilmu yang salah untuk menyesatkan manusia. Yang baik dikatakan buruk yang buruk dipromosikan sebagai kebaikan.

Para ulama yang baik, para ulama pewaris Nabi, tentu saja tidak boleh menyerah dan melemah dalam semangat dakwah dan beramar ma’ruf dan nahi munkar. Mereka harus tetap giat mengingatkan masyarakat agar tetap berpegang kepada ajaran-ajaran Allah, bagaimana pun beratnya. Mereka tidak boleh berputus asa. Sebab, adanya aktivitas amar makruf nahi munkar itu dapat menjauhkan masyarakat dari bencana. Dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, bab Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Imam Ghazali mengutip satu hadits Rasulullah saw :

“Tidaklah dari suatu kaum yang berbuat maksiat dan di kalangan mereka ada orang yang mampu mencegah atas mereka, lalu dia tidak melakukannya, melainkan hampir-hampir Allah meratakan mereka dengan azab dari sisi-Nya.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Peringatan Dini

Berbagai bencana yang digelar di negeri tercinta ini nyata-nyata merupakan signal dan peringatan dini dari Allah. Bukan semata-mata karena tidak bekerjanya sistem peringatan dini yang oleh sebagian kalangan dipersoalkan, ketika terjadi gempa dan tsunami. Atau peringatan dini dari pakar Vulkanologi dan Geologi yang tidak diindahkan. Tokh ini baru peringatan manusia. Sedangkan peringatan Allah saja diabaikan.

Melalui Al-Quranul Karim, Allah SWT sudah memperingatkan akan datangnya Hari Akhir, akan tibanya satu hari pembalasan, dimana seluruh amal manusia diperhitungkan, ditimbang, dan dimintai pertanggungjawaban. Namun, manusia banyak yang bersikap aneh. Bukannya memperhatikan sungguh-sungguh signal dan peringatan dini dari Allah dan kemudian sibuk menyiapkan masa depannya di akhirat, tetapi justru asyik membangun istana dan mengumpulkan kekayaan di dunia, seolah-olah harta bendanya akan mengekalkan dia di dunia. Banyak yang malas beribadah dan beramal untuk akhirat, padahal itulah tempat tinggal manusia yang abadi.

Di bulan Ramadhon yang penuh maghfiroh Allah ini, sebaik-baik bulan bagi kita untuk bermunajat kepada Allah dan berdoa semoga bencana demi bencana di negeri kita, mampu menyadarkan kita untuk bercermin diri melakukan introspeksi dan segera bertobat, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Setiap muslim yakin bahwa apapun musibah atau bencana yang menimpa mereka, tidak akan terjadi kecuali dengan izin Allah SWT.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. dan Barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) Maka sesungguhnya Dia-lah Allah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Al-Hadid : 22-24)

Hidup di dunia ini adalah semata-mata menjalani ujian demi ujian, baik berupa kesenangan maupun berupa kesedihan. Senang dan susah datang silih berganti. Tidak ada manusia yang selama hidupnya senang terus, atau susah terus-menerus sepanjang hayat. Sesekali tersenyum, tertawa, sesekali juga sedih dan menangis. Setiap datang bencana kita hanya dapat berucap, pasti ini datang dari Allah SWT. Tidak mungkin bencana ini terjadi di luar izin Allah SWT. Kita hanya berusaha mengambil hikmah dari ujian, teguran, atau mungkin hukuman (azab) yang diberikan Allah kepada kita.

Manusia seyogyanya sadar bahwa di mana pun dia berada, kematian akan selalu mengintai. Sungguh menyedihkan jika adanya berbagai peringatan, tidak mengubah manusia untuk berhenti berbuat maksiat. Hingga tatkala ajal datang dengan tiba-tiba, hasrat baiknya tak lagi kesampaian, yang ada hanyalah penyesalan di saat tiada lagi manfaat penyesalan. Dia akan berkata :

“Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (Al-Munafiqun : 10-11).

Begitulah keadaan umumnya orang, sehingga umur berlalu tanpa ada perbaikan amal yang berarti. Begitupun Ramadhan tahun ini yang kita berkesempatan mendapatinya, hendaknya kita tidak membiarkannya berlalu begitu saja, karena bisa jadi ini Ramadhan terakhir bagi kita, tiada lagi Ramadhan setelah ini. Jika perasaan ini yang kita hadirkan, niscaya kita maksimal mengisi hari-harinya. Semoga kita tidak terhalangi dari keutamaan Ramadhan tahun ini, yang mungkin saja Ramadhan terakhir bagi kita. Wallahu’alam


0 Responses to “Cermin Diri Di Bulan Suci”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


PENGUNJUNG KE-

  • 204,584 hits

Arsip

Agustus 2009
S S R K J S M
« Mei   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 10 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: